Syukuran 25 tahun Susteran Sang Timur Berkarya di Simpang Dua

1275
Para Suster Sang Timur yang berkarya di Simpang Dua Berfoto bersama Bapak Uskup dan Pastor. Foto dok. Floren Baya

Monga.idMinggu (8/10/2017) kemarin, merupakan hari yang penuh syukur bagi suster dari tarekat kanak-kanak Yesus (Konggregasi Susteran Sang Timur) / Pauperis Infantis Jesu (PIJ) yang tidak terasa telah berkarya di Paroki St. Mikael Simpang Dua  dalam kurun waktu seperempat abad (25 tahun/ pesta perak).

Pesta perak yang diperingati pun terlihat terasa meriah, kehadiran dari bapak Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, Pr dan di hadiri oleh hampir seribuan umat menjadi sebuah tanda nyata kegembiraan yang tidak terkira dalam karya susteran PIJ di Keuskupan Ketapang. Acara dimulai dengan misa dipimpin bapak Uskup Ketapang didampingi oleh Pastor paroki, Ignasius Made Sukartia, Pr., Alexander Joko Purwanto, Pr dan Harimurti, Pr. Pada acara pesta setengah abad karya Susteran Sang Timur berkarya di Simpang Dua sekaligus juga pelantikan prodiakon dan Dewan Paroki, Selanjutnya dilajutkan makan bersama dan acara bebas di gereja lama, tutur Floren selaku pengurus dewan Paroki St. Mikael Simpang Dua.

Dewan Paroki dan Prodiakon di Paroki St. Mikael Simpang Dua. Foto dok. Floren Baya

Dalam kata sambutan Pesta Perak Susteran FIJ, Mgr. Pius berpesan; Mesyukur hadirnya Allah di tengah umat melalui karya Suster Sang Timur, demikian juga Prodiakon dan DPP tidak menjadi seperti batu batu yang dibuang tukang bangunan, tetapi menjadi menjadi batu penjuru.

Melalui karyanya,  tidak bisa disangkal para suster Sang Timur memiliki andil yang sangat besar bagi pelayanan gerejawi melalui pendidikan bagi masyarakat terlebih di pedalaman sekalipun.

Dari karya-karya mereka pula putra/putri dari pedalaman dapat terlihat nyata seperti berdirinya asrama bagi putri-putri yang ingin bersekolah di Ketapang misalnya. Hadirnya Asrama Susteran Sang Timur, menjadi rumah bagi putri-putri dari pedalaman yang ingin bersekolah (melanjutkan pendidikan) di Ketapang.

Selayang Pandang Kongregasi Susteran Sang Timur

 

Logo manete in me (mengajak kita untuk tinggal bersama Tuhan). Dokumen Susteran Sang Timur Pusat
  1. Awal mula Kongregasi Sang Timur di Indonesia

Mgr. Clemens van der Pas, O.Carm beserta para imam ordo Karmel yang berkarya di misi ex karesidenan Malang, Besuki dan Madura, yakin bahwa karya misi tidak mungkin berhasil jika tidak tersedia cukup sekolah bagi anak-anak dan kaum muda. Itu sebabnya Perfek Apostolik Mgr. Clemens van der Pas, O.Carm mengundang a.l. para Suster Ursulin (OSU), para Frater Bunda Hati Kudus (BHK), para Suster Santa Perawan Maria (SPM), Suster Darah Mulia dan para Sang Timur, ikut serta menggarap Kebun Anggur, khususnya di bidang pendidikan. Moeder Fransisca Cruce, PIJ, Pimpinan Provinsi Belanda, menerima undangan itu lalu mengirimkan enam suster sebagai pionir untuk berkarya di Indonesia.

Pada tanggal 4 Mei 1932, enam suster Sang Timur pertama yaitu ; Moeder Andrea Ludwiga PIJ, Sr. Stanislaus Maria PIJ, Sr. Fransisca Josepha PIJ, Sr. Catharina Maria PIJ, Sr. Anna Reineria PIJ, Sr. Reiniera Maria PIJ berangkat dengan kapal “Christian Huygens” dan mendarat di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya pada tanggal 29 Mei 1932. Mereka dijemput Mgr Clemens van der Pas, O.Carm, Perfek Apostolik Jawa Timur dan Roma Blijdenstein dan diantar ke Pasuruan. Para misionaris ini dengan tekad bulat meninggalkan Tanah Airnya dan bekerja di ladang Tuhan yang masih asing, baik dalam hal cuaca, adat istiadat, makanan dan hal-hal lain yang baru bagi mereka. Semua itu diterima dengan berani, penuh pengorbanan demi keselamatan jiwa-jiwa dan cinta kepada Tuhan.

  1. Karya Para Suster PIJ pada saat awal di Indonesia

Di Pasuruan, para suster mulai membuka Sekolah Dasar berbahasa Belanda untuk anak-anak Cina; Holandse Chinese School (HSC) dengan nama Clara Fey. PAda saat itu jaman feudal, tidak semua anak dapat masuk sekolah. Di Pasuruan dimulai Sekolah Dasar “Ongko Loro” (Inlandsche School) khusus untuk anak-anak pribumi dengan nama Santa Maria.

Karya pendidikan di daerah misi semakin berkembang. Banyak anak yang belajar di sekolah para suster, tidak hanya di Pasuruan, tetapi juga di Batu. Beberapa kelompok suster misionaris berikutnya dikirim ke Indonesia, sampai masa pendudukan Jepang telah ada 17 suster misionaris.

Karya Sang Timur di Indonesia :

  • Bidang Pendidikan : Play Group – TK, SD, SMP, SMA, SLB – C
  • Bidang Sosial:Panti Asuhan, Asrama Putri dan Putra, Anak Asuh (tinggal di luar PA)
  • Bidang Kesehatan :Rumah Bersalin, Poliklinik
  • Bidang Pastoral : Rumah Retret, Pembimbing Retret, Pastoral Paroki (Bina Iman, Pembinaan Calon Baptis, Calon Komuni Pertama, Calon Krisma)

Komunitas Biara Karya Sang Timur di Indonesia :

  1. Jawa Timur :Pasuruan, Batu, Malang, Sumenep, Pamekasan, Curahjati (Banyuwangi)
  2. Yogyakarta : Pakel, Sentul, Nanggulan
  3. Jawa Tengah : Semarang
  4. DKI dan Banten : Tomang, Cakung, Ciledug
  5. NTT : Mauloo, Magepanda, Bajawa, Maronggela, Maumere
  6. Kalimantan : Ketapang, Simpang Dua

Sumber dan bahan tulisan dari : http://sangtimurpusat.org/2010/09/13/kongregasi-sang-timur-di-indonesia

Petrus Kanisius/Monga.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini