Mengenal Tradisi Bejujong (Ngamaru) Podi

126
Tetua adat sekaligus Dukun yang ikut berpartisipasi dalam acara ngamaru. (Foto : IST/Melki)

MONGA.ID, KETAPANG – Adat tradisi Bejujong merupakan salah kearifan lokal yang masih lestari hingga kini di Desa Gema, Kec. Simpang Dua, Ketapang, Kalimantan Barat.

Singkatnya, Bejujong (Ngamaru) merupakan adat permulaan yang dilakukan sebelum pesta panen padi dimulai.

Bejujong merupakan bahasa masyarakat Gore Mantok (sebutan khusus masyarakat Gerai/Gema). Sedangkan Ngamaru adalah bahasa penyebutan oleh masyarakat Simpang dan Kualan.

Dahulu kala, tradisi ini menjadi keharusan untuk dilakukan sebelum panen dimulai. Akan tetapi kini, tradisi ini tidak lagi menjadi keharusan untuk dilakukan karena faktor biaya yang cukup besar jika melakukan tradisi ini.

Seperti beberapa waktu lalu, tepatnya di penghujung bulan Februari, di Desa Gema, lebih khusus pihak Desa memiliki inisiatif untuk menyelenggarakan tradisi ini, kata Vinsentius salah seorang warga Desa Gema.

Sebelum tradisi Bejujong dimulai, biasanya terlebih dahulu dilakukan “Cupuwe” dalam bahasa Gerai (partisipasi dan urunan masyarakat- red). Hal ini dilakukan untuk keterlibatan meringankan biaya ritual tersebut, ujar Vinsentius.

Omping yang disajikan dalam acara Ngamaru. (Foto : IST/Melki)

Selanjutnya setelah Bejujong dilakukan, kemudian masyarakat yang mengumpulkan Cupuwe mengambil padi baru (padi muda sudah berisi) kemudian dibuat omping. Omping yang dimaksud merupakan padi muda yang sebelumnya terlebih dahulu ditumbuk dengan menggunakan lesung. Setelah padi muda ditumbuk kemudian ditampi dan omping pun siap dihidangkan.

Adapun prosesi yang dilakukan selama tradisi Bejujong antara lain masyarakat memeriahkannya dengan tari-tarian daerah dan diiringi gong gamal (alat musik setempat) sembari menikmati Omping.

Dalam adat tradisi Bejujong juga disuguhi pula minuman tradisional tuak secukupnya untuk dinikmati oleh tamu undangan dan tetua adat (domong adat).

Jika merunut dari tradisi Bejujong jaman dulu, masyarakat tidak diperbolehkan memanen padi apabila tidak menggelar upacara Bejujong.

Di tempat upacara digelarnya tradisi, biasanya terdapat taman (wadah) segi empat yang terbuat dari bambu kuning untuk tempat sesajian dan alat-alat pertanian yang biasa digunakan oleh petani ketika berladang seperti parang, beliung, isau kapakdan lainnya di simpan didalam taman. Taman tersebut juga dihiasi oleh komang (tanaman hiasan di ladang). Selain itu, hiasan-hiasan lainnya seperti kupong podi (ikatan padi), biasanya padi pulut/padi ketan.

Berharap, tradisi ini bisa lestari hingga nanti tak lelang oleh waktu dan masyarakat selalu menjunjung tinggi adat tradisi sebagai warisan leluhur.

(Monga/Petrus Kanisius)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini