Nongkrong di Jembatan Pawan Lima, Isyarat Masyarakat Butuh Plaza

173
Jembatan Pawan V, saban waktu menjadi pilihan wisata saat ini. Foto : IST
Jembatan Pawan V, saban waktu menjadi pilihan wisata saat ini. Foto : IST

MONGA, Ketapang – Ada yang menarik di jembatan ini di kala ruas jalan dari jalan lingkar sudah terhubung ke jembatan yaitu hadirnya jajanan pasar di sepanjang jalan hingga ke badan jembatan. Setiap pukul 15.30-18.00 Wib, jembatan ini sudah seperti tempat wisata.

Bagi masyarakat Kabupaten Ketapang Jembatan Pawan V (lima) sudah tak asing lagi. Jembatan yang terletak di Jalan Lingkar Kota yang menjadi penghubung ke Desa Negeri Baru ini memiliki nilai arsitektural yang berbeda dengan jembatan lainnya yang ada di Kabupaten Ketapang. Warna kuning melengkung ( setengah lingkaran)  menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk sekedar kongko-kongko (nongkrong) sembari berfoto.

Bersama teman, keluarga dan dating (pacaran) ke tempat ini dengan membeli jajanan dan duduk sembari berinteraksi di tepi jembatan menjadi aksi yang kerap kali terpantau di jembatan ini. “Saya senang ke Jembatan Pawan V  karena jajanan pasarnya lengkap”, ujar Eva, salah satu pengunjung yang ditemui Monga, Minggu (8/4)/.

Hadirnya jajanan pentol bakso, telur gulung, pentol goreng lilit telur, sosis goreng dan dililit telur, kacang-kacangan, air tebu dan jajanan lainnya menghiasi kawasan ini.

“Saya senang nongkrong di Jembatan Pawan V. Selain banyak jajanan, ramainya warga menjadi suasana terasa happy” ujar Hergan.

Interaksi yang menghangatkan suasana di daerah ini menjadi isyarat bahwa masyarakat menginginkan sebuah kawasan yang dapat dijadikan tempat berkumpul guna berinterksi, bersosialisasi dan bersenda gurau. Bagaimana jika jembatan ini sudah difungsikan dengan baik?, mustahil rasanya bisa jajanan dan masyarkat nongkrong di badan jalan dan jembatan.

Plaza adalah sebuah kata dari Bahasa Spanyol yang berhubungan dengan lapangan yang menggambarkan tempat terbuka untuk umum ( ruang publik) di perkotaan, seperti misalnya lapangan atau alun-alun.

Kebutuhan akan ruang ini mungkin yang dirasakan oleh masyarakat kota Ketapang. Untuk mendapatkan suasana yang tenang, ramai untuk melepas penat di kala senja di kawasan ini dengan konsep yang tak jauh berbeda mungkin sebuah impian dari masyarakat.

Berharap semoga pemerintah daerah tetap setia memberikan ruang publik yang baik dan layak bagi masyarakat perkotaan Ketapang.

(MONGA/Dwi Za Bagastia)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini