Ini Alasan Perlunya Menjaga dan Melindungi Satwa

19
Enggang Si Petani Hutan yang Tanpa Pamrih. foto : IST/ ecolodgesindonesia.com

MONGA.ID-KETAPANGMenjaga satwa dilindungi boleh dikata satu hal yang harus dilakukan sejatinya, dari dulu hingga selamanya. Lalu mengapa alasan kita perlu untuk menjaga satwa terutama yang dilindungi?

Tak hanya soal menjaga tetapi juga melindungi, itulah yang harus dilakukan. Melindungi namun juga membiarkan mereka (satwa dilindungi) agar selalu ada (lestari) jika masih ada kesempatan dan waktu yang bisa dilakukan.

Rentetan berbagai kejadian atau peristiwa menjadi muaranya. Tengoklah potret buram terkait konflik dan kejahatan terhadap satwa kian merajalela terjadi di Indonesia. Kasus perburuan, perdagangan atau pun semakin sempit (menipisnya) wilayah jelajah berupa habitat yang tidak lain adalah hutan sebagai tempat untuk berkembang biaknya satwa itu sendiri menjadi sebab musabab satwa yang tak kunjung henti hingga kini.

Dengan kata lain, hutan sebagai sumber utama dari segala makhluk yang kini sudah semakin banyak tercerabut dan tercabut dari tanah asal mereka pun menjadi bukti nyata sekaligus menjadi alasan kuat (yang mau atau tidak mau harus dilakukan) demi keberlanjutan nafas semua makhluk.

Tak hanya hutan, namun satwa juga memiliki manfaat yang tak ternilai bagi tatanan kehidupan dan sebagai rantai kehidupan makhluk hidup. Hutan sebagai sumber nafas semua makhluk hidup, sementara ragam satwa menjadi penjaga, pelindung, sekaligus sebagai petani hutan.

Keberlanjutan nafas dari hutan dan satwa terutama orangutan, burung enggang, dan ragam satwa lainnya berperan besar mereka salah satunya karena petani hutan yang tanpa pamrih selalu memberi kita manfaat.

Mariamah Achmad, selaku Manager Pendidikan Lingkungan dan media kampanye Yayasan Palung mengatakan;  Sudah layak dan sepantasnya.

Lebih lanjut menurut Mayi, sapaan akrabnya sehari-hari menerangkan, “Mengapa alasan kita semua (semua pihak) untuk menjaga dan melindungi satwa diantaranya adalah: Pertama, Populasi satwa di alam liar semakin menurun akibat dari tekanan aktivitas manusia seperti perambahan hutan, penebangan kayu, pembukaan daerah pertanian dan masifnya pembukaan lahan untuk perkebunan sawit skala besar, hutan tanaman industri dan pertambangan.”

Hal lainnya lagi diperparah oleh adanya perburuan satwa untuk diperdagangkan bgian-bagian tubuhnya, dipelihara atau pun juga bahkan ada yang dimakan. Selanjutnya juga, keberadaan satwa liar di hutan dapat membatu meregenerasi hutan sehingga tercipta kesinambungan manfaat hutan bagi kehidupan manusia”.

Selain itu, satwa yang ada di Indonesia merupakakan kekayaan flora dan fauna Indonesia yang tidak ternilai harganya. Keberadaan satwa liar menjadi kekayaan alam Indonesia yang keberadaannya menjadi sumber pengetahuan dan ispirasi serta kebanggaan bangsa Indonesia, ujar Mayi lagi.

Keberagaman keanekaraman hayati yang terdapat di wilayah Indonesia tidak terkecuali satwa menjadi dasar kuat yang harus terus menerus untuk dilindungi, dijaga, dan dilestarikan. Bukan malah mengorbankannya dengan merelakan mereka malang, miris, menangis, atau pun membiarkan mereka mati terbunuh sia-sia, sengaja atau pun tak sengaja atau pula bahkan hilang regenerasi (punah) dimakan zaman.

Tidak bermaksud menyudutkan atau menyalahkan beberapa pihak yang secara sengaja atau tak sengaja merusak hutan sebagai habitat dan populasi sekaligus pula sebagai cikal bakal keberlanjutan nafas hidup semua makhluk hidup.

Lihatlah faktanya, sebagian besar penyebab dari semakin menyempitnya keberlanjutan ruang lingkup makhluk hidup berupa hutan menjadi tanda nyata yang bercerita dan menyuguhkan serta tersaji tidak lain karena adanya dominasi manusia yang berlebihan terhadap alam (lingkungan) boleh dikata sebagai penyebab utama mengapa makhluk hidup berupa satwa  semakin sulit berlanjut.

Yang lebih mirisnya dan menyedihkan lagi, satwa dijadikan barang mainan atau peliharan. Satwa (binatang) pada prinsipnya adalah satwa bebas di alam liar. Jadi mereka bukan binatang mainan atau bukan binatang peliharaan.

Satwa juga memiliki hak yang sama untuk hidup bebas. Mereka (satwa/binatang) hidup bebas di alam liar bukan di dalam kandang atau pun tidak untuk disesengsarakan saat dipelihara.

Suguhan dari rangkaian sering terjadinya peristiwa alam akibat perbuatan manusia (tangan-tangan tak terlihat) yang tersaji pun semakin memberi arti dan makna kepada kita semua, seolah menyiratkan peran apa yang bisa dilakukan?

Sang Kuasa memberi titipan berupa langit dan bumi beserta isinya tidak terkecuali hutan dan satwa yang memiliki peranan utama sebagai keharmonisan dalam menjalani tatanan kehidupan semua makhluk sejatinya harus tetap dijaga hingga selamanya.

Tentu kita tak rela membiarkan mereka tinggal cerita. Tinggal cerita berarti tak dapat lagi kita menjumpai bentuk dan wujudnya. Satwa dan rimba raya (hutan) itu satu kesatuan yang katanya harus serasi, seimbang, harmoni hingga selamanya.

Nah, bagaimana kita bila melihat fakta dan realita (peristiwa) kejadian yang kerap kali mendera nasib satwa? Miris, marah dan mungkin pula bersungut-sungut mempertanyakan mengapa nasib satwa terus menerus seperti ini? Masih ada harapan serta berharap untuk mengetahui alasan mengapa kita perlu menjaga dan melindungi satwa.

Menjaga dan melindungi satwa berarti pula kita ikut berperan untuk keutuhan sang Ilahi untuk saling harmonis satu dengan yang lainnya. Bukankah indahnya suara satwa di rimba raya menjadi penanda indah kepada kita semua untuk selalu bahagia bersama tanpa mendera dan tanpa membeda, tanpa mendominasi dan jangan lupa diri karena kita semua adalah ciptaan Ilahi untuk saling menghargai bukan membasmi tanpa henti.

Berharap pula, semoga ada langkah strategis untuk penyadartahuan dari semua pihak untuk bersama-sama mengkampanyekan perlunya peran dan perlindungan terhadap satwa dilindungi oleh semua pihak pula tanpa terkecuali.

Dengan demikian pula semoga ada kesadaran dari semua  untuk peduli terhadap satwa agar tak lagi menyengsarakan satwa/hewan, tidak lagi menyiksa hewan dan membunuh terutama satwa yang dilindungi. Termasuk yang paling penting adalah penegakan dan penerapan hukum tegas kepada pelaku perusakan hutan atau pun satwa sebagai efek jera. Semoga saja…

(MONGA.ID/Petrus Kanisius)