Ketika Si Petani Hutan Menjadi Penting untuk Dilindungi

28

MONGA.ID, Ketapang-Dulu mereka (si petani hutan) tanpa waspada dan dengan riang menyapa dan menampakan diri, berbeda dengan saat ini sebaliknya. Jangankan untuk menampakan diri, mereka berlindung dan berdiam di habitat pun tergerus, tergusur dan terusir bahkan terbunuh hingga tergadai, riwayatmu kini.

Ketika kepak sayap dan raung suara merdumu sering kami dengar sahut menyahut, tetapi itu terjadi beberapa tahun yang lalu bahkan puluhan tahun lalu, saya masih ingat dan merasakan karena masih bisa menyaksikan langsung Si Petani Hutan yang tanpa ragu dan malu berpadu menyatu mungkin boleh dikata berinteraksi.

Keanekaragaman hayati Indonesia memang tidak pernah habis untuk diceritakan walau kondisi alamnya kian memprihatinkan, terlebih ragam tumbuhan dan satwanya tidak terkecuali pula Si Petani hutan yang saat ini menjadi penting untuk dilindungi.
Menjadi penting, maka perlu dan harus untuk dilakukan, mengapa itu perlu karena ada pengaruhnya. Mungkin kata-kata itu cocok untuk dikatakan. Ibarat kata, si petani hutan memiliki peran penting dan mengingat ancaman yang telah dan sedang terjadi.

Ancaman itu sudah pasti terjadi. Ancaman yang nyata dan bertubi-tubi dan secara masif pula terjadi, ini menjadi alasan kuat mengapa si petani hutan penting untuk dilindungi. Telah dan sedang terjadi, fakta memperlihatkan habitat hidup semakin terancam.

Tidak kalah pentingnya lagi adalah Si Petani hutan (enggang dan orangutan) ternyata berperan penting untuk meregenerasi (membangun kembali) hutan. Selain itu pula kehadiran mereka selain berfungsi untuk meregenarasi hutan juga sebagai penyeimbang ekosistem sekaligus pula sebagai spesies payung (Apabila mereka hilang maka akan berpengaruh/berdampak pula bagi bagi makhluk lainnya) termasuk kita manusia.
Seperti diketahui, Si Petani hutan yang tak lain adalah enggang/rangkong/julang ada 13 jenis yang mendiami wilayah Indonesia, dari 54 jenis rangkong yang ada di dunia. Mengutip dari halaman Mongabay Indonesia, menyebutkan; 13 jenis rangkong yang tersebar di Nusantara yang 3 jenisnya merupakan endemik Indonesia yaitu 2 jenis di Sulawesi; julang sulawesi (Ryhticeros cassidix) dan kangkareng sulawesi (Rhabdotorrhinus exarhatus); serta 1 jenis di Pulau Sumba yakni julang sumba (Ryhticeros everetti). Sementara jenis lainnya adalah enggang klihingan (Anorrhinus galeritus), enggang jambul (Berenicornis comatus), julang jambul-hitam (Rhabdotorrhinus corrugatus), julang emas (Rhyticeros undulatus), kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus), kangkareng perut-putih (Anthracoceros albirostris), rangkong badak (Buceros rhinoceros), enggang gading (Rhinoplax vigil), rangkong papan (Buceros bicornis), dan julang papua (Rhyticeros plicatus).

Catatan tentang peristiwa terkait ancaman petani hutan pun kian menjadi. Peristiwa perburuan, perdagangan, hingga jual beli (perdagangan satwa) semakin merajalela yang menjadi tantangan pula saat ini. Akan tetapi, ini bukan menjadi halangan. Wajar kiranya si petani hutan sudah sejatinya menjadi penting untuk menjadi perhatian para pihak dalam upaya menlamatkannya dari ancaman kepunahan di Alam liar.

Terri Lee Breeden, Direktur Yayasan Palung mengatakan terkait petani hutan ini, Penting untuk melindungi enggang dan orangutan karena mereka adalah mewakili Indonesia. Salah satu ciri khusus tentang Indonesia adalah satwa liarnya yang memiliki ciri khas, unik dan menjadi simbol. Sayangnya, banyak hewan terancam dan hampir punah karena adanya campur tangan/kegiatan manusia. Enggang dan orangutan juga memainkan peran penting dalam menyediakan jasa ekosistem bagi hutan dan bentang alam kita. Jadi, jika kita ingin lanskap yang sehat dan untuk anak-anak dan cucu kita untuk melihat hewan-hewan ini di alam liar kita harus bertindak sekarang untuk menyelamatkan mereka atau mereka akan hilang selamanya.

Orangutan yang juga sebagai petani hutan tak kalah memprihatinkan nasibnya. Satwa endemik khas Kalimantan dan Sumatera ini pun dikatakan keberadaanya saat ini sangat terancam punah karena berbagai ancaman yang kurang lebih sama dengan nasib yang dialami oleh burung enggang atau rangkong/julang.

Semakin berkurangnya luasan hutan akibat adanya perluasan untuk penggunaan lainnya (perkebunan, pertambangan dan pertanian) dalam skala besar menjadi nasib mereka kian memprihatinkan/terancam punah dan sudah seharusnya ada langkah peran serta dari semua pihak termasuk pemerintah dan semua pihak dari sektor swata untuk hadir serta menjaga dan melindungi mereka (si petani hutan; enggang dan orangutan) dilindungi agar tak punah.

Desi Kurniawati, Koordinator Program Perhutanan Sosial Yayasan Palung mengatakan; “melindungi orangutan dan enggang dengan penguatan regulasi dan penerapan sanksi tegas bagi pelaku yang mejadi penting. Selain itu, peningkatan penyadartahuan terkait pola pikir yang peduli konservasi pun menjadi penting untuk dilakukan. Selanjutnya juga harus ada peningkatan ekonomi masyarakat melalui cara kearifan lokal masyarakat, seperti misalnya menjaga lingkungan yang memberikan manfaat serta berkelanjutan”.
“Harapan, dengan melindungi si petani hutan berarti mereka tetap ada (menyelamatkan mereka) dari ancaman kepunahan”, ujarnya lagi.

Masuk Enggang saat ini dalam daftar kritis (CR/Critically Endangered) atau satu langkah menuju kepunahan di alam liar. Demikian juga halnya dengan orangutan, juga masuk dalam daftar sangat terancam punah/kritis.
Untuk menjaga dan melindungi si petani hutan memang tak mudah, tetapi jika dilakukan salah satu caranya seperti penyadartahuan kepada masyarakat luas menjadi penting dilakukan. Selain juga, perlu adanya edukasi kepada para pihak terutama bagi generasi muda di sekolah.

Segala cara pun dilakukan oleh para pihak agar bisa menyelamatkan, melestarikan dan melindungi si petani hutan. apabila tidak, mungkin sudah pasti dalam ancaman nyata yang berimbas kepada hilangnya populasi dan keberlanjuan mereka di alam liar.

Dengan demian besar harapan, enggang gading, julang dan orangutan (si petani hutan) dapat lestari hingga nanti karena adanya kesadaran dari semua pihak untuk peduli terhadap satwa ini.

MONGA.ID/Petrus Kanisius

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini