“Asian Waterbird Census (AWC) 2019”, BSYOK Lakukan Pengamatan Burung di Air Hitam

72
Burung Kuntul Besar, Kuntul Intermedia dan burung kuntul kecil. Foto IST/Foto dok. Erik Sulidra

MONGA.ID-KETAPANG, Dalam rangka Asian Waterbird Census (AWC) 2019, Birding Society of Ketapang (BSYOK)/Kawan Burung Ketapang (KBK) melakukan pengamatan sekaligus sensus burung air di Air Hitam, Kendawangan, selama 2 hari (17-18 Januari 2019), pekan lalu.

Ketika melakukan pengamatan, rata-rata yang dijumpai adalah burung air. Didominasi jenis gagang bayam timur, Kata Abdurahman Alqadrie selaku Ketua KBK.

Saat mereka melakukan pengamatan dan sensus burung, beberapa jenis burung air yang berhasil mereka identifikasi diantaranya adalah burung Gagang Bayam Timur, Itik Benjut, Kuntul besar, kuntul intermedia dan kutul kecil, Mandar kelam/ Mandar Padi Kalung Kuning dan Triga nebularia.

Burung Gagang Bayam Timur. Foto dok. Erik Sulidra

Gagang Bayam Timur (bahasa Latin yang dalam bahasa latinnya disebut Himantopus leucocephalus) adalah spesies burung dari keluarga Recurvirostridae, dari genus Himantopus. Burung ini merupakan jenis burung pemakan invertebrata kecil yang memiliki habitat di rawa payau, rawa tawar, danau dangkal, tepi sungai, sawah, beting lumpur, tambak garam.

Burung Itik Benjut. Foto dok. Erik Sulidra

Kemudian Itik Benjut. Itik benjut (bahasa Latin Anas gibberifrons) adalah spesies burung dari keluarga Anatidae, dari genus Anas. Itik benjut merupakan burung pemakan tumbuhan dan invertebrata yang memiliki habitat di rawa, payau, mangrove, tambak, kolam, sungai. Dapat sampai jauh ke pedalaman.

Selanjutnya ada family ardeidaea. Kuntul besar, kuntul intermedia dan kutul kecil. Kemudian ada juga burung-burung pantai dari keluarga charadridae dan scolopacidae. Diantaranya cerek pasir besar (charadridae) dan jenis-jenis trinil (scolopacidae).

Juga Mandar kelam. Mandar kelam (Gallinula tenebrosa) adalah spesies burung mandar dalam famili Rallidae. Burung ini tersebar di Indonesia, Australia, dan Selandia Baru.

Pada saat melakukan pengamatan, ada hal yang menarik yaitu lokasi masih jauh dari migrasi burung air.  Artinya kondisi lahan basahnya sehat.

Dari hasil sensus, lebih 1.000 individu teramati. Totalnya belum sempat dihitung, ujar Abdurahman Alqadrie.

Pada saat pengamatan dalam rangka AWC 2019 tersebut, setidaknya 5 orang yang melakukan pengamatan, mereka adalah; Erik Sulidra, M. Rizal, Salsabila, Balqis dan Abdurahman Alqadrie.

Teman-teman BSYOK /KBK yang melakukan pengamatan AWC beberapa waktu lalu di Air Hitam. Foto dok. Erik Sulidra

Harapan, Lingkungan tetap sehat lestari, karena keberadaan burung menjadi indikator lingkungan sehat. Artinya besar manfaat bagi kehidupan manusia dan terhindar dari sampah plastik, ujar Pak Abdurahman.

Erik Sulidra seorang dari anggota Kawan Burung Ketapang pun berharap, semoga habitat dan populasi dari burung air bisa terus terjaga hingga lestari, dengan demikian perlu keterlibatan dari semua pihak untuk menjaganya (burung air).

Waktu yang baik bagi para komunitas burung untuk melakukan pengamatan burung-burung air adalah di bulan Januari.

Birding Society of Ketapang (BSYOK) atau Kawan Burung Ketapang (KBK) merupakan komunitas (kelompok) para pehobi burung yang melakukan berbagai aktivitas atau kegiatan pengamatan burung-burung migrasi yang ada di Ketapang. Para pehobi burung tersebut selalu rutin melakukan pengamatan, pendataan (sensus) dan pendokumentasian burung-burung migrasi ataupun burung yang menetap.

(MONGA.ID/Petrus Kanisius)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini