Ucapan Syukur 25 tahun Tahbisan Imamat, 8 tahun Tahbisan Episkopal Mgr. Pius dan 25 Tahun Amba Berkarya di Tanah Kayong

442
Mgr. Riana Prapdi (Uskup Keuskupan Ketapang). Foto : MONGA.ID

MONGA.ID-KETAPANG, Minggu 13 September 2020 kemarin, di Gereja St. Gemma Galgani – Paroki Katedral diadakan misa syukur 25 tahun Tahbisan Imamat, 8 tahun Tahbisan Episkopal Mgr. Pius Riana Prapdi sebagai uskup di Keuskupan Ketapang. Dalam kesempatan tersebut juga sekaligus dirayakan perayaan 25 Tahun Amba Berkarya.

Mgr. Pius Riana Prapdi dalam homilinya mengatakan, Allah tidak pernah lelah  mengampuni kita, tetapi kita adalah orang-orang yang sering merasa lelah untuk mencari belas kasih Allah.

Lebih lanjut Mgr. Pius dalam lanjutan homilinya menegaskan, “Saya sebagai Imam dan kita semua diajak untuk menampilkan wajah Kristus. Kita diutus untuk menghadirkan Kasih. Yesus Kristus adalah wajah belas kasih Allah. Kita pun dipanggil dan diutus untuk menampilkan wajah Kristus”. Saya diteguhkan dalam panggilan saya, ujar Mgr. Pius.

Mgr. Pius pun berpesan kepada semua umat dalam kesempatan tersebut agar bisa merawat iman. Belas kasih Allah sangat nyata. Bahkan pada kesempatan tersebut monsinyur mencontohkan bahwa orang-orang yang ada di pedalaman, mereka (orang-orang dipedalaman) sungguh kuat. Selalu ada cara mereka untuk merawat imannya di tengah keterbatasan (belum semua memadai) seperti buku, kitab suci, teks nyanyi, listrik dan signal yang belum semua wilayah merasakannya, tetapi selalu ada cara untuk merawatnya. Iman mereka sungguh kuat, saya juga semakin diteguhkan dalam panggilan saya, kata bapak Uskup.

Selanjurnya juga Mgr. Pius mengatakan, Kita semua bisa merawat iman dengan cara-cara sederhana, seperti misalnya di kota, mengajak kita semua untuk merawat iman dengan cara sederhana seperti memberi tanda salib kepada anak sebelum tidur.

Pada misa syukur  25 tahun Tahbisan Imamat, 8 tahun Tahbisan Episkopal Mgr Pius Riana Prapdi juga dirayakan 25 tahun AMBA berkarya. Dalam kesempatan tersebut pula AMBA diberi kesempatan untuk bertugas sebagai petugas koor.

Pada kesempatan tersebut, Pastor Paroki St. Gemma Galgani, RD. Sutadi mengatakan mengucapkan Proficiat kepada Mgr. Pius yang merayakan  25 tahun Tahbisan Imamat, 8 tahun Tahbisan uskup. Tidak lupa juga RD. Sutadi berterima kasih kepada semua umat  yang hadir pada misa syukur tersebut dan kepada kelompok koor AMBA yang telah bernyanyi dengan sangat bagus.

RD. Sutadi, juga mengajak AMBA untuk sesekali bernyanyi diparoki di pedalaman, supaya umat di paroki di hulu bisa melihat kelompok koor yang bagus dalam bernyanyi, agar umat di hulu mendapat pengetahuan dalam bernyanyi. Pada kesempatan tersebut juga RD. Sutadi ingat ketika AMBA bertugas di Gereja Kemuning Biutak, ketika itu AMBA berkesempatan bertugas dan saat itu bersama Alm. Yan Sukanda. AMBA selalu menciptakan kader yang sudah tersebar seperti di Pontianak dan di Pedalaman-pedalaman. Berharap mereka yang  tersebar di pedalaman juga bisa menularkan dan dapat menjadi kader kepada yang lainnya. AMBA harus selalu menjaga standar dan kualitas agar selalu baik dan semakin baik.

Di akhir misa, Perwakilan umat yang diwakili oleh Alkap Pasti memberikan bingkisan sebagai bentuk dukungan simbolik, umat Paroki St Gemma memberikan hadiah sebuah laptop. Agar terus “menulis” pelayanan berdasar semangat Serviens in Caritate, ujar Alkap.

Desy Aphen, selaku generasi pertama AMBA mengucapkan; “Terimakasih kasih kami kapada Om Yan disurga dan kepada para pendiri Amba. Karena kalian kami juga ada dan ikut berkarya”. Profisiat bapak Uskup, profisiat dan sukses terus buat AMBA.

Berikut Profil Singkat Mgr. Pius Riana Prapdi dan Profil Singkat Kelompok Paduan Suara Alunan Musik Maeng Batayoh (AMBA)

Profil Singkat Mgr. Pius Riana Prapdi 

Saat ini Mgr. Riana Prapdi  berusia 53 tahun, dilahirkan di Painiai, Papua dan ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1995. Beliau pernah studi di Roma dan berkarya dalam bidang pastoral.

Riwayat Pendidikan dan Pekerjaan :

  • Pada tahun1995-1997: Studi teologi di Fakultas Wedabhakti, USD, Yogyakarta dan pastor pembantu di Paroki St. Maria dari  Fatima Sragen,
  • Tahun 1997-1999 : Pastor Kepala di Paroki St. Aloysius Gonzaga Mlati ,
  • Pada tahun 1999-2001; menjadi Direktur Yayasan Dinamika Edukasi Dasar,
  • Tahun 2001-2003 : Studi Teologi Moral,
  • Tahun 2003-2005 : Pengajar di Fakultas Wedabhakti dan Pastor Pembantu di Paroki St. Fransiskus Xaverius Kidulloji,
  • Tahun 2006-2010 : Direktur Caritas Keuskupan Agung Semarang,
  • Tahun 2008-2009 : Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang,
  • Tahun 2009-2010 : Administrator Keuskupan Semarang, 
  • Pada tahun 2010-2012 : Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang, 
  • Pada tahun 2012 : Pastor Riana Prapdi diangkat oleh Benediktus XVI,  pada 9 September 2012 sebagai Uskup Ketapang.

Profil Singkat Kelompok Paduan Suara Alunan Maeng Batayoh (AMBA)

Hadirnya Paduan Suara AMBA bermula dari sosok seorang  Alexander Yan Sukanda. Orang mengenalnya Al. Yan Sukanda atau lebih dikenal dengan sebutan Om Yan.

Adapun yang mendasari terbentuknya Kelompok Koor AMBA adalah; dulu yang namanya paduan suara  masih langka. Waktu itu baru ada kelompok koor St. Gemma. Dari situlah  Alm.  Om Yan Sukanda tergerak hatinya untuk membentuk kelompok paduan suara untuk memberi warna berbeda pada saat itu dalam hal ini kelompok koor, maka  18 Juni 1995 berdirilah kelompok Koor AMBA (Paduan Suara Amba), kata Desy Aphen.  

Kini Om Yan telah bersama bapa disurga, tetapi jasa dan karyanya tidak lekang oleh waktu.

AMBA Generasi Pertama berfoto bersama alm. Om Yan Sukanda. Foto dokumen: Amon Stefanus
Baliho 25 tahun Tahbisan Imamat, 8 tahun Tahbisan Episkopal Mgr. Pius dan 25 Tahun Amba Berkarya. Foto : Leni Amba

Tahun ini, paduan Suara AMBA sudah berumur 25 tahun (25 tahun berkarya), AMBA merupakan paduan suara Gereja untuk tugas-tugas di gereja seperti saat natal, paskah atau hari minggu. Tugas-tugas lainnya seperti upacara adat (gawai) dan mengisi tugas saat natal bersama pernah dipercayai untuk koor dan musik tradisi yang dipadu menjadi satu (kolaborasi).

Dari dulu sampai saat ini, anggota paduan suara AMBA dan Ompe Harmoni adalah anak muda yang masih sekolah dan yang sudah bekerja.

Amba dan Ompe Harmoni, ibarat adik dan kakak selalu bersama berkarya melalui musik sebagai kelompok atau wadah generasi muda untuk menyalurkan bakat dan kemampuan melalui keahlian menyanyi dan memainkan alat musik.

Selamat merayakan 25 tahun Tahbisan Imamat, 8 tahun Tahbisan Episkopal Mgr. Pius dan 25 Tahun Amba Berkarya.

Penulis : Petrus Kanisius

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini