Tak Harus Merambah Hutan, Ini Pekerjaan Lain yang Bisa Dilakukan oleh Masyarakat di Kayong Utara

68
Produk hhbk yang dijual saat mobile market di Pantai Pulau Datok. (Foto : ISTIMEWA/YP).

MONGA.ID-KAYONG UTARA, Ada banyak pilihan pekerjaan lain yang bisa dilakukan oleh masyarakat di Kayong Utara, Kalimantan Barat tanpa harus merambah hutan.

Salah satunya memanfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dengan membentuk kelompok perajin hhbk dan menjadikan produk tersebut sebagai nilai jual yang bisa menjadi penghasil tambahan para perajin.

Koordinator Program Sustainable Livelihood Abdul Samad, mengatakan, Melalui promosi produk hhbk yang dikenal dengan mobile market (pasar keliling) menjadikan upaya untuk mengenalkan kepada masyarakat akan Sumber Daya Alam (SDA) di sekitar bisa dimanfaatkan secara arif dan bijaksana untuk penghidupan yang berkelanjutan.

Biasanya, para perajin dampingan program SL Yayasan Palung melakukan mobile market di wilayah Pantai Pulau Datok satu bulan sekali.

Selain itu, produk hhbk yang dibuat perajin dampingan Yayasan Palung dapat digunakan untuk menyimpan ari-ari bayi sebagai budaya lokal masyarakat.

Sebagian masyarakat di Kayong Utara mempercayai bahwa anak perempuan atau gadis yang belum bisa menganyam belum boleh berumah tangga (belum boleh menikah).

Seperti diketahui, beberapa kelompok dampingan Program Sustainable Livelihood (SL) Yayasan Palung di Kayong Utara seperti ;

Kelompok Peramas Indah di Desa Pangkalan Buton. Kelompok ini  membuat Kerajinan anyaman (hhbk pandan). Kelompok ResamKU di Desa Pampang Harapan, membuat  Kerajinan Anyaman (HHBK-Resam). Kelompok Tani Meteor Garden di Desa Pampang Harapan, kelompok ini membuat Pertanian Organik Hortikultura. Kelompok Mina Segua di Pampang Harapan, kelompok ini melakukan Budidaya Ikan Nila dan Mas. Kelompok Ida Craft di Desa Sejahtera, kelompok ini membuat Kerajinan Anyaman (HHBK-Pandan). Kelompok Karya Sejahtera di Desa Sejahtera, kelompok ini membuat Kerajinan Anyaman (HHBK-Pandan, nipah). Kelompok Mina Sehati di Desa Sejahtera, kelompok melakukan Budidaya Ikan nila. Kelompok Rintis Betunas di Desa Riam Berasap Jaya, kelompok ini membuat Pertanian Organik Hortikultura. Kelompok Tembang Mina di Desa Matan Jaya, Kelompok ini membuat Kerajinan Anyaman (HHBK-Rotan dan Bambu).

Sembilan kelompok dampingan ini selalu dilakukan monitoring, evaluasi dan pelatihan oleh Yayasan Palung bersama lembaga mitra seperti Dinas Pariwisata, Dekranasda, Dinas Perdagangan, Dinas Perikanan, Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan Perikanan (P2MKP), Dinas PERKIMLH, Dinas Pertanian Kabupaten Kayong Utara. 

Dengan menganyam juga berarti merawat tradisi dan lingkungan. Tidak bisa disangkal hutan dan adat tradisi masyarakat merupakan satu-kesatuan yang tidak terpisahkan dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat di sekitar hutan.

Berharap semoga para perajin dapat terus menganyam sebagai salah satu pilihan yang sedapat mungkin dipertahankan hingga nanti. Tetap terjaganya hutan setidaknya menjadi satu-kesatuan makhluk hidup agar bisa terus berlanjut, berdampingan dan harmoni. Dengan demikian hutan bisa tetap terjaga dan lestari.

(Pit/MONGA.ID)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini