Sang Kerang

471

Aku ibarat bulan tanpa bintang

Saban waktu mencari dimana dirimu

Selalu benarkah bertanya pada mentari jua rembulan, namun apa daya tak kunjung berbalas

Separuh nafas jua jiwaku tak disangkal telah melebur dalam jiwa bersamamu

Terombang gelombang, terbawa angin, tak jarang topan badai menghantam karang jua cangkangku, acap kali kurasa bersama pula

Jaring pukat nelayan tak jarang menjadi momok yang jua melenyapkan rumah harapan

Secerca masa dimana kita pernah bersama dalam tumbuh kembang,
Tak jarang sesamaku manusia menjadi jurang pemisah kita bersama.

Luka laraku hanya kusimpan dalam diam, namun itu luka yang teramat dalam hingga mereka menyebar pada tubuhku,

Senyum, tawaku sirna kala mereka sesamaku menyayat tubuhku, tak jarang pula organku sengaja disiram air didihan lalu dilahap tanpa ampun.

Nasibku sang kerang yang selalu malang ketika orang tak lagi mengingat bahwa aku jua ingin menarik nafas yang tak lekang oleh waktu.

Ketapang, Kalbar 13/08/2017

(Monga / AldoRL)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini