Izinkan Aku Tersenyum Untuk-Mu

297
Hutan. Foto : IST/Petrus Kanisius
Hutan. Foto : IST/Petrus Kanisius

Aku meminta izin agar kiranya boleh tersenyum untuk-Mu

Itu aku (hutan) tentang tajuk-tajukku rimbun memberi tanda

Bersatu harmoni itu yang ku mau, bukan (ter/di) cabut

 Bukan pula tercerabut merenggut tak kentara

Pelangi selepas hujan mengintip rebah tak berdayaku

Tanda kata, nyata bicara berlawanan kata

nasibku kini yang tak kunjung membaik

Gumamku tentang sakit penyakitku

Rebah tak berdaya bicara dalam dilema nada tak terlihat

Rinai rintik seolah menjadi hamoni semu

karena tak sanggup menahan rebah tak berdayaku

Rebahku sebagai penanda tak lagi mampu

Setiap rintik menjadi biang sang badai datang, inilah yang terlihat di pelopak mata

Semua mengata-ngataiku sebagai bencana dan tak bersahabat dan lain sebagainya

Apa salah dan dosaku hingga aku dikatai sebagai biang bencana dan sebagainya itu

Tanda nyata bicara tentang nasibmu, semua tertuju padamu

Nasibku yang tak lagi sama seperti dulu kian menanti asa bagi semua

Bingkai kata dan nada harap padaku pada-Mu

Entahlah, salah atau benarnya aku pun tak tahu

Umur dan nasibku yang masih tersisa ini akankah nanti kiranya boleh bertahan atau kalian rampas hingga aku pun tinggal dongeng manis saja?

(MONGA.ID/PIT)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini