(Puisi)Tertawa Melihat Bumi Menangis

185
Tertawa Melihat Bumi Menangis. Foto : Net

Sorak sorai kita terus menggema

Tertawa tak terasa itu ada

Menyana tanya tentang apa yang dirasa

Mengapa biarkan bumi menangis itu nyatanya

Tawa rasa tiada kata menertawa

Kata ibarat sampah tak berguna

Risau, gundah gulana, bertanya

Mengapa biarkan bumi menangis, kata siapa?

Berkaca pada tanda nyata yang orang bilang itu bencana

Bukankah itu artinya biarkan bumi menangis merana?

Bumi porak poranda ketika tingkah polah bicara

Bukan lagi mengada-ada karena itu ada

Pepatah lama, pepatah baru tentang dokma rasa

Kata bicara dalam nyata karena mungkin kita lupa?

Bencana mendera lekang membentang asa masa membara

Membara mendera kepada kita

Tengoklah bumi semakin renta

Kita pun semakin tua

Tau arti menjaga?

Atau hanya khayalan belaka

Panas mentari yang semakin terik membakar begitu pula rimba raya

Para satwa semakin pelit bersuara

Lauk pauk semakin jalang di sungai-sungai belantara

Arus haus semakin meraja sebab serakah mengalahkan kokohnya Ciptaan Sang Pencipta

Hembusan angin sepoi-sepoi kini berganti karena membeku, hingga mentari memanas disetiap sudut ruang kota

Nyanyian rindu akan bumi yang lestari mencari tuannya

Tangan-tangan tak terlihat tak henti berlomba seolah bumi kepunyaan sendiri saja

Getar nada akan tanda rasa peringatan tak jarang menjadi penanda kemana kita

Kemana kita karena bumi semakin senja

Semakin senja apakah ia (bumi) masih mampu sebagai pembina

Sebagai penopang, penyeimbang penguat dan penyejuk jiwa

Bila ingin ia (bumi) terus ada bingkailah rasa untuk merenda asa agar bumi tak tinggal cerita.

(Pit-YP/MONGA.ID)

BAGIKAN
Artikel Sebelumnya(Puisi) Aku Alam Semesta

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini