Kita yang Semakin Terbelenggu oleh Gadget

287
Kita yang Semakin Terbelenggu oleh Gadget. (Foto : Istimewa/MONGA.ID).

Tidak bisa disangkal, saat ini kita sudah semakin terbelenggu oleh gawai (gadget). Apa saja buktinya?

Sepanjang waktu, siapa saja sudah semakin sulit untuk terlepas dari gawai (gadget) seperti telepon genggam. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua sudah semakin akrab dengan telepon genggam (telepon pintar).

Tentu saja perkembangan teknologi yang semakin maju tidak bisa terbendung lagi, tetapi bukan berarti kita lupa membatasi diri. Faktanya saat ini, tidak sedikit dari kita yang terbelenggu oleh gawai lebih khusus telepon genggam itulah realita sebagian besar kita saat ini.

Tidak untuk saling menyalahkan, tetapi sejatinya, sudah selayaknya kita untuk Bersama-sama melihat dan peduli dengan persoalan ini (kita yang semakin terbelenggu oleh gawai) yang seolah lupa diri dengan tanpa sadar bahwa itu telah membelenggu hingga mengikat kita.

Kita seolah sudah mendewakan Gawai/Gadged, melupakan sebagian besar yang lainnya. Setiap saat, setiap detik sebagian besar kita enggan lepas dari gawai. Saban waktu kita sudah semakin sulit terlepas telepon genggam/telepon pintar sebagian besar waktu kita.

Tidak bisa disangkal, Informasi dan komunikasi dengan menggunakan media gawai itu penting. Tetapi, jangan sampai gadget yang menguasai kita hingga kita lupa bahwa yang punya hak untuk mengatur gawai (gadget) adalah kita. Tidak hanya itu, anak-anak pun sudah semakin bebas hingga membuat cemas.

Apa benar ya, jaman sekarang ada yang bilang jika tidak memiliki gedget yang canggih nggak gaul, telepon pintar dan terbaru menjadi godaan yang selalu ditawarkan disetiap arus informasi ataupun iklan yang ada. Bahkan, tidak sedikit pula saat ini yang mengatakan, orang kebanyakan enggan melepaskan gawai dalam genggaman. Ada juga yang bilang, dengan gadget selain bisa gaul juga keren.

 Anggapan lain juga muncul, gawai acap kali mempengaruhi sekaligus mengatur kita. Pada hal kitalah yang berhak untuk mengatur telepon pintar milik kita tersebut.

Dari pagi setelah bangun tidur, hampir dipasikan setiap orang yang memiliki gadget disibukan untuk membuka gadgetnya untuk membalas atau mengirim pesan dan lain-lain. Menyampaikan selamat pagi kepada orang-orang terdekat hingga urusan pekerjaan dan lain sebagainya. Bagi anak muda (putra-putri, menjelang dewasa) juga menggunakan gadget sebagai selfi bangun tidur, pamer muka cantik ataupun ganteng. Celakanya selfi-selfi itu ada yang tidak selayaknya dipamerkan dan menampilkan foto-foto yang tidak sewajarnya untuk ditampilkan kepada khalayak di media sosial.

Anak remaja, tidak jarang, pagi ketemu pagi atau malam sudah ketemu malam lagi, karena lupa waktu. Lupa waktu dan terus pegang/genggam telepon pintar dan semakin sibuk karena candu gaming ataupun sibuk dengan scrol media sosial.

Semakin menjamur dan murahnya harga gawai membuat setiap orang hampir dipastikan semakin mudah dan sudah memiliki gawai saat ini.

Dampak gadged bagi kita

Fenomena ini telah terjadi di sini, sebab-akibat adanya gadget. Tren baru yang saat ini telah, sedang dan terus terjadi menyangkut gadget menjadi isyarat baru. Apakah kita sebagai pengguna gadget bisa bijaksana menggunakannya. Atau malah gawai menjadi pengikat (mengikat) sekaligus menjerumuskan?

Sejatinya, hadirnya teknologi dan arus informasi menjadi sebuah harapan baru sebagai jendela untuk mendapakan pengetahuan yang tidak terbatas hingga gadget dijadikan sebagai media pendukung dalam tumbuh dan berkembang dalam hal bisnis, pekerjaan ataupun juga relasi. Bagi anak muda atau ABG (putra-puri menjelang dewasa/anak baru gede), jika gadget digunakan secara positif banyak manfaat yang didapatkan. Misalnya saja untuk mempermudah komunikasi, menambah informasi dan perkembangan teknologi. Selanjutnya juga mendapatkan informasi untuk hiburan yang bisa bagi mereka dalam tumbuh dan berkembang (berkreasi).

Namun, hadirnya informasi yang mudah diperoleh melalui gadget tidak sedikit pula menjadi kekhawatiran bersama. Kekhawatiran yang dimaksud ketika gawai digunakan tidak sesuai dengan kegunaannya. Mengingat, tidak sedikit anak-anak TK, SD, SMP hingga SMA yang menggunakan gawai sebagai fungsi yang salah arah (terlampau bebas hingga bablas) hingga selalu membuat cemas. Akses informasi, konten kekerasan, pornografi, video game dan video pornografi masih saja bisa dengan bebas berseliweran didapatkan dengan mudah. Hal lainnya, fungsi pengawasan di rumah oleh orangtua sudah semestinya dilakukan.

Perilaku buruk (dampak negatif) dari penggunaan gadget yang berlebihan bisa berdampak pada proses belajar dan prestasi siswa-siswi. Misalnya saja, dengan adanya gadget kecenderungan lupa belajar hingga prestasi menurun. Lupa waktu, itu penyebab utamanya. Belajar yang menjadi prioritas menjadi di kesampingkan.

Tidak hanya itu, hadirnya gadget bila tidak digunakan secara bijaksana dan diawasi oleh orangtua akan mengganggu hubungan keakraban, kebersamaan dan sosialisasi di ruang lingkup keluarga menjadi berkurang.

Beberapa hal yang menyangkut penggunaan gadget, kiranya bila boleh dikata dua mata pisau yang siap menghadang jika kita sebagai pengguna gadget tidak bijak. Tentu, hal ini menjadi kekhawatiran bersama pula. Arus informasi, sosialisasi dan kecanggihan teknologi dari gadget begitu leluasa berkembang dan silih berganti mudah diperoleh  serta berkembang setiap saat. Arus informasinya inilah yang terkadang menjadi bias ataupun pangaruh jika tidak serta merta disaring. Kecenderungan yang ada malah tidak sedikit yang terbuai dan semakin terjerumus/menjerumuskan pengguna gadget itu sendiri.

Sudah saatnya bagi kita semua, lebih khusus anak muda (Putra-putri, anak baru gede) untuk dapat memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk dari setiap informasi.  Peran orangtua sangat diperlukan untuk pengawasan bagi anak-anak mereka yang menggunakan gadget. Sesungguhnya penggunaan gadget yang bijaksana kita yang berhak mengatur, menyaring (memfilter) setiap informasi yang hilir mudik melalui gadget. Semua tergantung kepada seberapa bijaksananya kita dengan menggunakan gadget yang kita miliki untuk mengatur dan menyaring setiap arus informasi yang ada? Jangan sampai gadget yang mengatur kita. Kiranya, gunakanlah gadget untuk hal-hal yang bermanfaat dan positif. Bolehlah kiranya kita bijaksana dan membatasi penggunaan gawai lebih khusus telepon pintar yang kita miliki. Demikian pula bagi orangtua untuk mengawasi serta membatasi kepada anak-anak mereka dalam hal penggunaan gadged. Semoga saja…

PIT-YP

(MONGA.ID)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini