Mengenal Warisan Leluhur: Keramat, Pantak atau Ponti’ di Kompleks Pentas Budaya Pendopo Bupati Ketapang

394
Keramat Nek Male di Kompleks Pendopo Bupati Ketapang. Foto
Keramat Nek Male di Kompleks Pendopo Bupati Ketapang. Foto dok. Monga.id

Monga.id  – Ketapang, Bagi Masyarakat Dayak pada umumnya peninggalan nenek moyang berupa warisan budaya seperti Keramat, Pantak atau Ponti’ menjadi sesuatu hal yang paling penting untuk dirawat,  dijaga dan dilestarikan. Namun yang pasti tidak semua orang tahu dan mungkin juga bertanya apa itu Keramat,  Pantak (Ponti’).

Secara umum, Keramat dapat diartikan sebagai tempat atau wadah di suatu Wilayah (tempat) tertentu yang dianggap sakral dan miskin serta berisi berbagai ragam tumbuhan (ramuan alami) untuk penyembuhan.

Keramat juga menjadi tempat pertapaan dan tempat yang dipercaya juga sebagai tempat untuk memohon sesuatu kepada Duata (Yang Maha Kuasa) atau juga menjadi tempat yang  dipercaya  sebagai tempat yang menjaga suatu wilayah tertentu yang dipercaya sebagai penjaga masyarakat agar aman dan damai. Biasanya, yang dikeramatkan antara lain seperti batu, air atau pun juga goa dan pohon Beringin.

Pantak atau Ponti'. Foto dok. Monga
Pantak atau Ponti’. Foto dok. MONGA.ID

Pantak atau Ponti’ biasanya dibuat atau terbuat dari kayu yang dibuat menyerupai bentuk tubuh manusia dan diukir. Pantak atau Ponti’ sebagai simbol leluhur yang ada  di dalam keramat itu sendiri.

Secara harafiah, Pantak merupakan tempat yang sangat keramat bagi suku Dayak yang masih dijaga sampai sekarang sebagai media suatu hubungan antara suku Dayak dengan roh leluhur sehingga dapat dilihat bahwa masyarakat suku dayak sangat menghormati roh leluhur dengan aplikasi tindakan dalam menjaga pantak serta memberi sesajian kepada roh leluhur, selain memiliki kekuatan magis juga memiliki nilai seni yang sangat tinggi sehingga dapat menjadi aset budaya suku dayak, Terdapat hubungan spritual yang sangat dekat antara pantak dengan nabo pantak, mangkok merah, nariu, dan ngayaudari segi persatuan suku dayak sampai tujuan spiritual bagi roh leluhur, Pantak dalam arti yang lebih luas mewakili keberadaan roh leluhur mewakili budaya dan Jubata (Tuhan Suku Dayak) yang mewakili sisi kepercayaan orang Dayak. (sumber: Dayakologi).

Adapun nama keramatnya “Nek Male”, pendirinya Panglima “Jilah” dari daerah Behe’ Kabupaten Landak, sebagai pemangku (pemegang) keramat ini adalah bapak Y. Alemantara yang begelar Panglima Gana Benua Tanjungpura. Adapun Roh Leluhur Nek Male berasal dari Batu Daya.  Berdasarkan keterangan pemangku Keramat, didirikannya keramat tersebut dimaksudkan untuk menjaga keamanan dan kedamaian Kabupaten Ketapang dan hal tersebut, didirikan berdasarkan kesepakan bersama. Rencananya, Sabtu (25/11) besok, dilakukan peresmian keramat ini oleh dukun dan pemangku keramat.

Mengapa hal ini demikian penting untuk diketahui?. Setidaknya, penjelasan singkat terkait keramat, Pantak atau Ponti’ menjadi penting sebagai ilmu pengetahuan bagi generasi  muda saat ini untuk semakin mencintai budaya leluhur hingga nanti dan lestari.

(Tim Redaksi MONGA.ID)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini