Menjadi Biang Konservasi dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan

85
Orangutan adalah salah satu kera besar yang sangat dilindungi saat ini. Foto : Istimewa/ERIK/MONGA.ID

MONGA.ID-KETAPANG, Sobat konservasi, pada 28 Juli 2021 lalu dunia memperingati ‘World Nature Conservation Day’ namun skala nasional di Indonesia baru akan diperingati pada 10 Agustus 2021. Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) diselenggarakan sebagai pengingat akan pentingnya konservasi alam yang bertujuan untuk kesejahteraan manusia di masa kini hingga mendatang (berkelanjutan).

Dirjen KSDAE Kemen LHK menunjuk kota Kupang (NTT) sebagai tuan rumah HKAN, hal ini dinilai tepat karena mengingat posisi geografisnya penting bagi penyebaran dan keberlangsungan satwa liar endemik di  wilayah Wallacea . Selengkapnya Baca di sini

Secara individual, kita dapat berpartisipasi menjadi biang dalam kegiatan ini. Beberapa hal yang sangat sederhana dapat kita praktikkan, dengan harapan optimis orang-orang di sekitar kita dapat meniru dan paham. Misalnya dengan diet produk-produk dari plastik, memanfaatkan sumber energi listrik dengan bijak (hemat), tidak menggunakan air dengan boros, dan sebisanya menggunakan produk yang dapat dipakai berulang (reuse), serta mendaur ulang barang yang dikonsumsi (recycle). Dengan melakukan hal-hal tersebut kita telah mengkampanyekan konservasi alam pada kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, ada World Orangutan Day yang akan diperingati pada 19 Agustus 2021 dengan tema Restorasi Habitat. Kegiatan ini akan digaungkan di seluruh dunia, dimana Indonesia sebagai habitat country.

Jumlah pasti orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) masih kurang diketahui, tetapi sebagian besar jangkauan mereka terjadi di luar kawasan lindung. Untuk waktu yang lama, beberapa populasi yang dilindungi – Taman Nasional Sebangau dan sekitarnya, rumah bagi populasi orangutan terbesar di Kalimantan (Wich et al. 2008), Taman Nasional Tanjung Puting dan Taman Nasional Gunung Palung – dianggap stabil. Namun, terlepas dari statusnya yang dilindungi, populasi ini terancam oleh pembalakan liar, kebakaran dan konversi menjadi pertanian, dengan adanya perkebunan dan agroforestri di dalam dan di batas-batas kawasan lindung ini (Wich et al. 2012; Gaveau et al. 2013) . Kebakaran merupakan ancaman utama: lebih dari 4.000 km2 hutan lahan gambut Sebangau dibakar pada tahun 1997–1998, yang mengakibatkan sekitar 8.000 orangutan hilang dalam populasi ini saja (Husson et al. 2015). Perburuan, yang ilegal, juga dianggap sebagai risiko nyata untuk mempertahankan populasi yang tidak dilindungi dalam jangka panjang: semua populasi diperkirakan akan menurun lebih jauh dalam 50 tahun ke depan (Abram et al. 2015).

Restorasi habitat orangutan merupakan langkah strategis untuk mengembalikan ekosistem alami berjalan dengan baik ditengah penyempitan habitat mereka akibat ancaman-ancaman diatas. Habitat alami yang terjaga pasti akan sangat banyak memberikan keuntungan ekologis bagi manusia. Lebih baik lagi jika kita secara individu, kelompok maupun lembaga juga melakukan restorasi mental. Artinya kita kembalikan mental (watak) kita untuk menyadari pentingnya hidup berdampingan dengan alam. Di situ lah (watak) peran krusial seorang manusia untuk menyelamatkan segala sumberdaya di bumi demi keberlanjutan.

Jika dapat digambarkan, ada empat keadaan manusia yang berkorelasi dengan watak. Keadaan yang sulit dan kacau akan melahirkan orang-orang yang kuat, orang-orang yang kuat akan membentuk keadaan yang nyaman, namun keadaan yang nyaman dapat melahirkan orang-orang yang lemah, dan orang-orang yang lemah akan menyebabkan keadaan menjadi sulit dan kacau. Fase ini akan terus berputar, dan diharapkan kita, anda dan saya tetap menjadi orang-orang yang kuat di masa-masa yang sulit. Akhirnya, mari kita menjadi biang konservasi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Penulis : Erik Sulidra-Aktivis Lingkungan Yayasan Palung

(MONGA.ID)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini