Orangutan boleh dikata sebagai Primata Harapan, Ada Hutan Maka Ada Orangutan

48
Orangutan. Foto dok. Tim Laman

Ada hutan maka ada orangutan. Rimbunnya tajuk-tajuk pepohonan (hutan) tidak bisa disangkal, karena tidak sedikit memberi manfaat bagi semua napas makhluk hidup di bumi ini, lebih khusus orangutan yang hidup dan mendiami hutan hujan Kalimantan dan Sumatra.

Rimbunnya hutan bersama nyanyian paduan suara para satwa pun menjadi tanda nyata; bahwa hutan dan orangutan memiliki korelasi yang sejatinya harus harmoni sampai selamanya.

Orangutan pun jika boleh dikata merupakan primata harapan. Ya, primata harapan karena orangutan memiliki tidak sedikit peran di habitatnya yang tidak lain adalah sebagai petani hutan yang tanpa lelah dan tidak pamrih menanam di hutan hujan sampai kapan pun selagi ia masih ada.

Selain itu, orangutan yang merupakan Primata atau satwa yang sangat dilindungi itu memiliki peranan penting di hutan karena ia sebagai penyeimbang ekosistem atau dengan kata lain sebagai spesies kunci.

Hutan dan orangutan menjadi satu kesatuan yang sulit (ter/di)pisahkan (ada hutan maka ada orangutan). Peran penting hutan bagi sebagian besar makhluk hidup sudah dikaruniai oleh Sang Pencipta karena titipan bukan warisan yang begitu berharga untuk kita rawat dan jaga.

Hilangnya hutan maka mencerminkan akan berimbas kepada nasib sebagian besar makhluk hidup, tidak tercuali orangutan sebagai petani hutan.

Sebaliknya, apabila primata yang terancam punah itu masih boleh hidup bebas di alam liar, maka ia masih bisa menyemai biji-bijian dari sisa-sisa yang ia makan dan nantinya biji-bijian tersebut akan perlahan-lahan tumbuh menjadi tunas-tunas baru (pohon-pohon baru) yang menjulang tinggi.

Tersedianya tajuk-tajuk pepoponan sudah barang tentu menjadi rumah yang nyaman bagi orangutan dan satwa lainnya, tidak terkecuali kita manusia.

Hutan menyediakan pakan hingga hewan/satwa/primata beroleh makanan yang melimpah tanpa susah. Demikian juga, tersedianya hutan hujan sebagai penyedia penampung air bersih yang bersih alami, juga sebagai pencegah dari berbagai bencana karena ulah tangan-tangan manusia.

Riang gembira suara satwa kini jarang terdengar dan menjelma menjadi sunyi senyap karena tajuk-tajuk yang berdiri kokoh sudah semakin terjerembab rebah tak berdaya karena ulah tangan-tangan tak terlihat.

Bayangkan apa jadinya apabila hutan tidak ada di muka bumi ini? Tidak bisa disangkal, sebagian besar makhluk hidup mendiami bumi ini sangat sulit untuk bertahan hidup atau bahkan bisa punah. Tidak hanya itu, ketika di bumi tidak ada hutan (tajuk-tajuk pepohonan) maka sudah pasti bumi terasa sangat panas sekali dan gersang hingga manusia sudah pasti gerah.

Realita nyata kini pun sudah sangat terasa, tajuk-tajuk sudah semakin sedikit yang mampu berdiri kokoh dan menopang napas kehidupan makhluk hidup yang mendiami hutan belantara.

Bumi semakin panas, cuaca sudah semakin sulit diprediksi oleh kita manusia, para nelayan semakin sulit mencari ikan dan petani pun semakin merugi karena anomali cuaca.

Tidak hanya itu, apabila musim kemarau tiba, tidak jarang sumber air semakin sulit dijumpai. Mata air seolah sama seperti air mata yang menangis ratapan karena sulitnya menemukan mata air sebab hutan hujan sudah semakin sulit ditemukan.

Demikian juga apabila musim hujan tiba, air meluas bebas hingga kita sulit beraktivitas leluasa seperti sediakala.

Berharap, kiranya hutan hujan yang tersisa ini masih boleh berdiri kokoh hingga selamanya. Mengingat, napas-napas sebagian besar makhluk hidup tidak terkecuali orangutan dan manusia bergantung satu sama lainnya. Biarkan ia (hutan dan orangutan) tetap harmoni sampai selama-selamanya.

(Pit-YP/MONGA.ID)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini