Kisah Dramatis Perjalanan Camp Coffee Shop

588

Warna-warni dalam tatanan nafas hidup selalu mewarnai setiap langkah dan roda segenap roda kehidupan. Sepenggal kisah atau ragam kisah dalam menjalani rekam jejak hingga capaian menjadi kisah baru yang layak menjadi cerita manis dan berbagi cerita dalam inspirasi.

Cerita senja di titik nol Ketapang, kami menyambangi Camp Coffee Shop di deretan ruko (rumah toko) tidak jauh dari Taman Tanjungpura. Sapaan manja dari sang penyaji kopi sore ini tampak sangat bahagia, tanpa basa-basi kami dipersilakan untuk duduk dan disuguhi lantunan ‘smooth jazz‘ (alunan musik jazz) dari speaker aktif nya. “Menu spesial untuk kalian sore ini, kopi Bajawa Flores di mix dengan kopi Jember”, terang Marlin sang penyaji kopi. Sebatang hisapan rokok mild belum terhisap habis, datanglah dia dengan ramah membawakan kami kopi spesial tadi dalam kemasan ‘Vietnam drip’ (penyajian kopi khas Vietnam) sembari bergabung di meja nomor satu tempat kami berlabuh.

Seiring lantunan lagu bergema di ruangan ini, kami menanti tetesan dari ‘Vietnam Drip‘ dengan berbincang ringan perjalanan Camp Coffee. Hari ini (12/8) tepat 4 tahunnya Camp Coffee memberi cita rasa kopi kepada masyarakat Ketapang. “Saya bangga menjadi pemuda Dayak pertama yang membuka warkop di kota Ketapang ini, pahitnya perjalanan membuka warkop sudah sering saya lewati akan tetapi inilah sebuah seruputan double exspresso yang selalu saya rasakan, pahit namun menantang”, ungkap Sang Penyaji Kopi.

Sumarlin bersama pohon kopi yang ditanamnya di Desa Terusan, Kampung halamannya.

Merealisasikan mimpi untuk membesarkan dan memberdayakan, juga memperkenalkan kopi mulai dirintisnya dengan membuat kebun kopi di kampung halamannya sendiri.
“Belajar di Kintamani Bali, luasnya hamparan kebun kopi dan sistem pengelolaan yang baik membuat saya tergerak untuk mengaplikasikan apa yang saya lihat ke daerah saya, dan itu sudah saya lakukan”, tutur pria yang akrab disapa Marlin, tersebut.

Membuat Camp Coffee menjadi tempat ngopi yang berkesan dan tempat perenungan serta belajar merupakan mimpinya. “Memiliki ‘camp’ sendiri dengan konsep yang baik menjadi mimpi saya. Bukan hanya dari bangunan yang baik akan tetapi memiliki tenaga yang profesional merupakan impian yang harus terwujud”, terang Marlin.
Tak terasa jam pun menunjukkan pukul 16.30 WIB, gelas sudah mengering dari seduhan kopi, cuaca mulai tampak mendung, kami pun menyudahi serta pamit untuk undur diri.
(Monga / Bagas)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini