Diskusi dan Peningkatan Kapasitas Staf YP untuk Memberikan Informasi Mutakhir Terkait Pakan Orangutan di SRCP-TANAGUPA

471
Natalie Robinson dan Laura Brubaker berdiskusi bersama Gunawan Wibisono terkait jenis buah pohon pakan yang ditemukan selama observasi. Foto dok : Gunawan/YP
Natalie Robinson dan Laura Brubaker berdiskusi bersama Gunawan Wibisono terkait jenis buah pohon pakan yang ditemukan selama observasi. Foto dok : Gunawan/YP

Yayasan Palung (YP) mengadakan diskusi dan pelatihan terkait upaya peningkatan kapasitas staf dalam membangun informasi terkait pakan orangutan di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP), Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), Jumat (27 /1/ 2023) bulan lalu.

Kegiatan tersebut mencangkup upaya identifikasi tumbuhan pakan orangutan di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (SRCP-TNGP). Pada kesempatan tersebut, Natalie Robinson saat melakukan kunjungan ke SRCP-TNGP berkesempatan memberikan pelatihan untuk staf Yayasan Palung agar dapat memberikan kontribusi lebih terkait informasi pakan orangutan yang dikelola secara digital.

Pelatihan staf YP dilakukan agar staf memiliki kapasitas yang mumpuni dalam upaya konservasi dan riset orangutan, khususnya tata cara Kelola sampel digital tumbuhan pakan orangutan. Natalie Robinson dan Laura Brubaker berdiskusi bersama Gunawan Wibisono terkait jenis buah pohon pakan yang ditemukan selama observasi. Beberapa jenis buah ini diketahui sebagai pakan orangutan yang sedang berada pada fase produktif menghasilkan buah diantaranya brangan (Lithocarpus sericobalanos) dan buah gansing, kempilik (Lithocarpus lucidus). Kedua jenis ini termasuk ke dalam famili Fagaceae atau kelompok pohon oak. Selain itu, dalam proses identikasi pakan dimuat catatan karakter penting langsung dari observasi pohon hidup dengan cara mengamati berbagai kejadian penting pada jenis dan disebut sebagai fenologi pohon.

Aspek Botani Yayasan Palung yang didiskusikan dalam pelatihan tersebut antara lain terkait kegiatan yang mencangkup dokumentasi pohon pakan orangutan, identifikasi serta melakukan pengkajian kembali terkait perkembangan taksonomi tumbuhan. Proses pengamatan yang dilakukan juga memperhatikan banyak catatan peristiwa dan faktor lingkungan, misalnya musim fase produktivitas pohon menghasilkan bunga, buah dan biji. Berbagai catatan dimuat ketika organ generatif ditemukan, proses ini dapat memberikan informasi lebih jelas terkait jenis tumbuhan dan statusnya sebagai pakan. Karakter yang dihadirkan oleh organ yang masih segar seperti warna, aroma, bentuk, habitus dan lain sebagainya dapat diperoleh dari observasi langsung tersebut.

Foto saat cek ulang sampel dan identifasi tumbuhan. (Foto : Istimewa/Gunawan).

Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) tersusun atas habitat berbeda yaitu rawa gambut (peat swamp), rawa air tawar (freshwater swamp), kerangas, alluvial bench, lowland sandstone, lowland granite, upland granite dan montane. Komponen biotik dan abiotik penyusun yang dihadirkan juga berbeda-beda, misalnya pada habitat kerangas akan ditemui beragam vegetasi dengan kecendrungan memiliki diameter dan tinggi yang nilainya kecil, sehingga seakan tumbuhan tersebut kerdil. Seringkali hutan kerangas memiliki komposisi rapat dengan tanah di atas permukaan berupa pasir putih. Pada habitat peat swamp, freshwater swamp, alluvial dan kerangas memiliki kekeanekaragaman tumbuhan dengan morfologi yang khas pada organ vegetatif akar. Beberapa jenis tumbuhan di 4 habitat tersebut memiliki tipe akar jangkar dengan bagian tengah dan ujung yang memanjang tidak beraturan. Pengamatan tumbuhan tersebut dilakukan dengan cara mengamati aktivitas harian orangutan dan fenologi pohon.

Penulis : Gunawan Wibisono, Staf Botani Yayasan Palung

(MONGA.ID)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini