Orangutan di Dalam Lanskap Mendawak Perlu Perhatian Dari Berbagai Pihak

301
Tim Survei Hutan Desa (YP, Brigade KPH dan LPHD). (Foto : Istimewa/Erik Sulidra).
Tim Survei Hutan Desa (YP, Brigade KPH dan LPHD). (Foto : Istimewa/Erik Sulidra).

Di Indonesia keanekaragaman hayati mengalami keterancaman, terutama oleh pembukaan hutan untuk perluasan lahan pertanian dan perkebunan. Orangutan merupakan salah satu satwa yang paling terancam akibat aktivitas manusia. Perlindungan habitat adalah pendekatan yang paling penting dalam konservasi satwa endemik tersebut.

Salah satu kantong populasi orangutan di Kalimantan Barat, yang berada di luar taman nasional adalah lanskap Mendawak. Lanskap ini memiliki luas 844.791 Ha, yang terdiri dari bermacam status penggunaan lahan. Termasuk di dalamnya ada hutan lindung, HTI, Perkebunan dll.  

Penetapan kawasan sebagai Hutan Desa adalah salah satu kunci untuk mengurangi kehilangan kawasan hutan. Namun, kawasan lindung pun menghadapi ancaman, baik terhadap hutan (penebangan ilegal dan kebakaran hutan) maupun terhadap satwa (perburuan dan perdagangan ilegal). Penilaian keanekaragaman hayati dan upaya pemantauan jangka panjang menjadi sangat penting untuk pengelolaan secara efektif pada kawasan konservasi ini.

Pada 2021, Yayasan Palung (YP) membantu Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dalam melakukan survei habitat dan keanekaragaman hayati, khususnya Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii). Pengamat melakukan survei sarang orangutan sepanjang jalur pengamatan (16 x 1 km), melakukan pengukuran tutupan kanopi (336 titik sampel pada 16 jalur pengamatan), mencatat celah hutan yang muncul, melakukan survei vegetasi di plot (64 plot, 100 x 10m, 4 per jalur pengamatan), dan mencatat semua spesies vertebrata yang teramati. Survei dilakukan di enam Hutan Desa yang terletak pada dua lansekap yang berbeda yaitu Sungai Paduan (berada dalam lanskap Mendawak) dan Sungai Purang. Lanskap Sungai Paduan (67,88 Ha) terletak kira-kira 13 km arah Barat Laut dari Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), kantong populasi besar yang dihuni hingga 2.800 orangutan. Lansekap Sungai Purang (720 Ha) terletak pada zona penyangga sepanjang batas Timur TANAGUPA. Kedua lanskap tersebut merupakan tipe habitat hutan rawa gambut sekunder yang sedang tumbuh. Tujuan survei ini adalah untuk (1) memperkirakan ukuran populasi orangutan di dua lanskap Hutan Desa, (2) mengkaji komposisi hutan dan mengidentifikasi pohon pakan orangutan, (3) mencatat keberadaan satwa liar lainnya, dan (4) mengidentifikasi potensi ancaman terhadap orangutan dan keanekaragaman hayati.

Hasil menunjukkan rata-rata tutupan kanopi sebesar 70,6% di S. Paduan (rentang = 0 – 88,8%), dan 79,1% di S. Purang ( rentang = 63,6 – 89,8%), paling banyak celah hutan ada pada lanskap S. Paduan (S. Paduan = 22 celah; S. Purang = 1 celah) yang umumnya disebabkan oleh kebakaran hutan yang merambah di tepi kawasan. Analisis dari jumlah sarang orangutan, menunjukkan bahwa S. Paduan mendukung kepadatan orangutan hingga 0,8 ind/km², dan S. Purang mendukung kepadatan hingga 0,7 ind/km². Sebanyak 2.224 pohon diukur dan diidentifikasi selama survei yang terdiri dari 42 famili dan 121 genus. Komposisi pohon pakan orangutan di S. Paduan berjumlah rata-rata 76,2 % dan di S. Purang berjumlah 76,7 %. Kepadatan pohon ficus (ara) yang merupakan cadangan makanan penting bagi satwa adalah 1,5/Ha di S. Purang dan 1,75/Ha di S. Paduan. Selain orangutan, pengamat mencatat 80 spesies burung dan 10 spesies mamalia ( 3 diantaranya adalah primata- Pongo pygmaeus wurmbii, Hylobates alibarbis, dan Presbytis rubicunda) di S. Paduan, serta 50 spesies burung dan 5 spesies mamalia ( 2 diantaranya adalah primata- Pongo pygmaeus wurmbii, Hylobates albibarbis) di S. Purang.

Kepadatan orangutan di lanskap S. Paduan dan S. Purang sebanding dengan kepadatan yang baru-baru ini dilaporkan pada tepi hutan yang terganggu di TANAGUPA, tetapi jauh lebih rendah dari kepadatan orangutan di habitat yang telatif tidak terganggu. Hasil ini relatif cukup tidak mengherankan karena Hutan Desa yang dijadikan sampel terus mengalami gangguan dan tekanan dari aktivitas manusia, seperti perburuan, penebangan pohon dan kebakaran hutan selama musim kemarau yang berkepanjangan. Meskipun tutupan tajuk secara keseluruhan relatif tinggi pada kedua lokasi sampel, ada area semak belukar terbuka di S. Paduan yang mengalami kerusakan akibat kebakaran hutan, yang signifikan mengurangi ketersediaan habitat bagi orangutan dan spesies penghuni hutan lainnya. Tingginya proporsi pohon pakan orangutan, menunjukkan bahwa kedua lansekap kemungkinan besar mampu menyediakan makanan yang cukup bagi orangutan, namun kepadatan buah ara jauh lebih rendah daripada yang dilaporkan pada daerah kurang terganggu di hutan dataran rendah sekitar TANAGUPA. Keberadaan pohon ara yang berbuah sepanjang tahun sangat penting bagi orangutan, karena mereka akan bergantung pada buah ara saat kelangkaan buah lain terjadi di hutan. Rendahnya kepadatan pohon ara berkaitan dengan rendanya kualitas habitat orangutan dan ini menjadi faktor penting yang membatasi kepadatan orangutan di kawasan tersebut. Gangguan dari aktivitas manusia terbukti membatasi kepadatan orangutan, sehingga upaya konservasi di S. Paduan dan S. Purang harus difokuskan untuk mengurangi tekanan dan ancaman ini melalui peningkatan patroli dan penjangkauan masyarakat, yang bertujuan untuk mengurangi aktivitas perburuan dan penebangan liar di dalam kawasan lindung tersebut. Pada akhirnya, wilayah yang rusak akibat kebakaran hutan harus dipulihkan, dan tindakan pencegahan kebakaran harus diterapkan untuk mengurangi kerusakan lebih lanjut.

Mengikuti Workshop yang diselenggarakan oleh Untan bersama dengan para pihak. (Foto : Istimewa/Erik Sulidra).

Pada tanggal 31 Mei 2023, YP menghadiri workshop yang diselenggarakan oleh Universitas Tanjungpura, dalam rangka perayaan Dies Natalis ke-64 dengan tema “Kolaborasi Perlindungan keanekaragaman Hayati untuk Keberlanjutan Usaha dan Kesejahteraan Masyarakat di Lanskap Mendawak”. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Konferensi Universitas Tanjungpura. Kegiatan yang dihadiri oleh berbagai pihak ini (akademisi, NGO, private sector, pemerintah) menjadi wadah untuk mendiskusikan berbagai strategi dan langkah konkrit untuk membangun kerjasama antara pemangku kepentingan. Hal ini menjadi sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem, keberlanjutan usaha dan kesejahteraan masyarakat di lanskap tersebut. Mengutip dari laman fahutan.untan.ac.id Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut, M.Si, IPU, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, menyampaikan “Kami berharap melalui workshop ini, para peserta dapat saling berbagi pengalaman, pengetahuan dan inovasi dalam melindungi keanekaragaman hayati di lanskap Mendawak. Kolaborasi yang kuat antara berbagai pemangku kepentingan akan menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga keberlanjutan dan keseimbangan ekosistem.” Semoga langkah kecil ini akan menjadi dasar yang kuat dalam pengelolaan kawasan yang berkelanjutan.

Penulis : Erik Sulidra, Manager Program Perlindungan dan Penyelamatan Satwa Yayasan Palung

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini